Kamis, 14 Juni 2012

Hidupku, Aku, dan Penjaraku



Hidupku, Aku, dan Penjaraku

Udara malam mendobrak tubuh ini. Udara dingin di akhir desember. Malamku masih saja sama seperti malamku kemarin tanpa bintang. Malamku hanya bertemankan lilin kecil. Hanya lilin ini yang menemani galau hatiku kala gemerlap lampu diskotik menghipnotis keramaian. Jiwa ini tak tentu arah. Lilin itu membiarkan imajinasiku berteriak. Aku mulai mendendangkan lagu duka selama ini. Sialnya malamku. Sialnya nasibku. Bulan pun tak kuasa melihat kesedihan di kesendirianku. Bulan takut melihat duri yang menusuk kaki kecil ini. Sedangkan mata tak mampu terpejam. Mata ini hanya bisa menangis kala keramaian tertawa bahagia dengan perut buncit ke depan.
Di siang hari, aku bertaruh nyawa menantang zaman. Di malam hari, aku berteriak dalam kesepian. Malam nan sepi menyelimuti diri ini yang ringkih lagi rapuh akibat zaman. Hampir di setiap malamku tak mampu tidur nyenyak. Bunga tidur pun enggan masuk dalam tidurku. Inilah hidupku di kamar bak penjara kehidupan. Ya!! Di kamar ini lah aku merintih kesakitan di dada meratapi kerasnya hidup di kota. Dan biarlah Dia yang mendengar teriakan dalam qalbuku nan kelam. Penjara ini hanya memiliki satu tempat bernaung. Pusaraku yang usang sebagai tempat pembaringanku setiap malam.
Aku bersimpu di penjaraku. Di atas lantai ini, aku menengadah ke langit kamar seakan aku melihat ajalku. Dan tibalah tetes air mata jatuh deras, membasahi tempat sujudku. Aku berteriak bak diberondong peluru yang menghujam di sekujur tubuh.
“Aku benci hidup ini ?! Aku panggil Engkau? Dan Aku berlari, Kemana ?!!”
Aku ingin berlari dari hidup ini namun dada ini terasa sempit, terhimpit batu besar. Itu batu kehidupan. Batu yang sempat menimpa si budak Habasyi. Tak kuasa ku berlari. Belum sempat aku berlari namun raga terjatuh di lantai dingin dalam penjara kehidupan. Sekujur badan bergetar hebat, terasa di kaki kecilku hingga bibirku.
Di bibir ini bergetar sebait doa’ untuk Pencipta zaman.
“Ya Rabb, ampunilah aku. Bukankah aku ini hambaMu?” aku ulangi Sembilan puluh Sembilan kali dengan air mata mengalir di pipi.
Tik… Tik… Tik…
Suara jam kotak tua itu terus berdetik, mengintatkanku akan senyum ibunda di sana. Di sana. Jauh di sana.
-o0o-
 “Gunung, lembah, bukit, pepohonan, hijau, mentari, dan pelangi.”
“Dimana ini?” Tanyaku dalam batinku. “Tempat macam apa ini?! Firdaus kah?!!” Aku tak percaya, berada di taman surga.
Tempat ini hampir ditelan zaman. Tempatku dilahirkan. Tempatku dibesarkan. Tempatku diajarkan mengaji. Inilah tempatku seharusnya menghabiskan hari-hariku dengan udara desaku. Aku berdiri di antara ladang-ladang nan hijau. Dan di bawah pepohonan nan rindang dan teduh aku bersenda gurau. Amboi, sejuknya udara berhembus di sela-sela dahan cemara. Udara itu seakan-akan menyanyikan lagu simfoni di telingaku. Inilah kehidupan desa. Desa menceritakan kenikmatan yang hakiki. Suara para petani bersorak gembira menanti setetes berkah yang turun dari langit.
Kala derai hujan basahi wajahku, aku segera berlari kencang seperti angin. Wush! Tawaku terus saja tak mau berhenti. Semakin deras hujannya, semakin asyik kuberlari. Berlari menikmati hidup. Aku tak peduli sakit. Aku dan kawan-kawanku bermain hujan bak kodok ngorek yang lompat ke sana kemari berpesta hujan. Suara tawa kami mengalahkan suara hujan. Dan langit tersenyum melihat kami bermain hujan-hujanan. Begitu juga ibundaku tercinta. Senyumnya mengalahkan mentari pagi. Saat aku berbalik melihatnya, kami berdua saling tertawa bersama-sama tanpa ada beban. Begitu indah senyumnya, tak akan mampu kulupakan senyum itu. Betapa bahagianya kami berpesta pora walau hanya ada pesta hujan di desa kecil ini.
“Hujan!!! Kemana kau? Wahai hujan! Datanglah ke kamar kecil ini!” Rinduku padamu, membasahi wajahku dengan air mata.
-o0o-

bersambung...
Loading...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar