Hidupku,
Aku, dan Penjaraku
Udara
malam mendobrak tubuh ini. Udara dingin di akhir desember. Malamku masih saja
sama seperti malamku kemarin tanpa bintang. Malamku hanya bertemankan lilin
kecil. Hanya lilin ini yang menemani galau hatiku kala gemerlap lampu diskotik
menghipnotis keramaian. Jiwa ini tak tentu arah. Lilin itu membiarkan
imajinasiku berteriak. Aku mulai mendendangkan lagu duka selama ini. Sialnya malamku.
Sialnya nasibku. Bulan pun tak kuasa melihat kesedihan di kesendirianku. Bulan
takut melihat duri yang menusuk kaki kecil ini. Sedangkan mata tak mampu
terpejam. Mata ini hanya bisa menangis kala keramaian tertawa bahagia dengan
perut buncit ke depan.
Di
siang hari, aku bertaruh nyawa menantang
zaman. Di malam hari, aku berteriak dalam kesepian. Malam nan sepi menyelimuti diri ini yang ringkih lagi
rapuh akibat zaman. Hampir di setiap malamku tak mampu tidur nyenyak. Bunga
tidur pun enggan masuk dalam tidurku. Inilah hidupku di kamar bak penjara
kehidupan. Ya!! Di kamar ini lah aku merintih kesakitan di dada meratapi
kerasnya hidup di kota. Dan biarlah Dia yang mendengar teriakan dalam qalbuku nan kelam. Penjara ini hanya memiliki satu tempat bernaung.
Pusaraku yang usang sebagai tempat pembaringanku setiap malam.
Aku bersimpu di penjaraku. Di atas lantai ini, aku
menengadah ke langit kamar
seakan aku melihat
ajalku. Dan tibalah tetes
air mata jatuh deras, membasahi tempat sujudku. Aku
berteriak bak diberondong peluru yang menghujam di sekujur tubuh.
“Aku
benci hidup ini ?! Aku panggil Engkau? Dan Aku berlari, Kemana ?!!”
Aku
ingin berlari dari hidup ini namun dada ini terasa sempit, terhimpit batu
besar. Itu batu kehidupan. Batu yang sempat menimpa si budak Habasyi. Tak kuasa
ku berlari. Belum sempat aku berlari namun raga terjatuh di lantai dingin dalam
penjara kehidupan. Sekujur badan bergetar hebat, terasa di kaki kecilku hingga
bibirku.
Di
bibir ini bergetar sebait doa’ untuk Pencipta zaman.
“Ya
Rabb, ampunilah aku. Bukankah aku ini hambaMu?” aku ulangi Sembilan puluh Sembilan
kali dengan air mata mengalir di pipi.
Tik…
Tik… Tik…
Suara
jam kotak tua itu terus berdetik, mengintatkanku akan senyum ibunda di sana. Di
sana. Jauh di sana.
-o0o-
“Gunung, lembah, bukit, pepohonan, hijau, mentari,
dan pelangi.”
“Dimana
ini?” Tanyaku dalam batinku. “Tempat macam apa ini?! Firdaus kah?!!” Aku tak
percaya, berada di taman surga.
Tempat
ini hampir ditelan zaman. Tempatku dilahirkan. Tempatku dibesarkan. Tempatku diajarkan
mengaji. Inilah tempatku seharusnya menghabiskan hari-hariku dengan udara
desaku. Aku berdiri di antara ladang-ladang nan hijau. Dan di bawah pepohonan
nan rindang dan teduh aku bersenda gurau. Amboi, sejuknya udara berhembus di
sela-sela dahan cemara. Udara itu seakan-akan menyanyikan lagu simfoni di
telingaku. Inilah kehidupan desa. Desa menceritakan kenikmatan yang hakiki.
Suara para petani bersorak gembira menanti setetes berkah yang turun dari
langit.
Kala
derai hujan basahi wajahku, aku segera berlari kencang seperti angin. Wush!
Tawaku terus saja tak mau berhenti. Semakin deras hujannya, semakin asyik
kuberlari. Berlari menikmati hidup. Aku tak peduli sakit. Aku dan kawan-kawanku
bermain hujan bak kodok ngorek yang lompat ke sana kemari berpesta hujan. Suara
tawa kami mengalahkan suara hujan. Dan langit tersenyum melihat kami bermain
hujan-hujanan. Begitu juga ibundaku tercinta. Senyumnya mengalahkan mentari
pagi. Saat aku berbalik melihatnya, kami berdua saling tertawa bersama-sama
tanpa ada beban. Begitu indah senyumnya, tak akan mampu kulupakan senyum itu. Betapa
bahagianya kami berpesta pora walau hanya ada pesta hujan di desa kecil ini.
“Hujan!!!
Kemana kau? Wahai hujan! Datanglah ke kamar kecil ini!” Rinduku padamu,
membasahi wajahku dengan air mata.
-o0o-
bersambung...
Loading...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar