Selasa, 19 Juni 2012

Hidupku, Aku, dan Penjaraku (part II)



Ada sebuah gubuk reyot di mataku. Aku melihat panggung kecil di balik Gubuk reyot ini. Di kala musim dingin mampir, dinginnya menusuk tulangku. Seluruh raga menggigil tanpa selimut hangat atau perapian mewah. Begitu dinginnya malam kala musim tak bersahabat di panggung kecilku. Gubuk reyot berdinding bilik bambu ingin roboh. Gubuk pun tak mampu melindungi dirinya. Dasar malang. Malang nian nasibmu si Gubuk reyot. Dan inilah malamku di desa bersama si Gubuk reyot. Gubuk reyotku menemaniku.
Gemuruh petir menyambar seluruh kampung. Badai dan angin ribut bersatu, meniupkan pepohanan. Dinginnya pun tak kalah dinginnya es. Badai ini memang begitu dahsyat. Dan kembali lilin kecil menerangi relung-relung jiwaku di gubuk reyot.
Di gubuk reyot.
Tak ada sandiwara dalam panggung kecilku, di Gubuk reyot. Yang ada hanya selimut bolong menyelimuti tubuhku. Aku tinggal bersama ibunda si permata hatiku terasa begitu damai bagai di surga. Badai pun tak akan mampu menghentikan hangat cinta seorang ibu. Cintanya bukan sandiwara di Opera kaum bangsawan. Opera yang mempertontonkan kekonyolan.
“Ceritanya fana. Sandiwaranya pun murahan.” Cibirku di dada.
Malam semakin mendingin.
“Dingin… dingin sekali…” Keluhku di Gubuk reyot sambil terbaring lemas. Sampai rasa kantuk tak mampu meninabobokan mata ini.
Pelan-pelan dia menghampiriku bak malaikat, membawa susu hangat. Didekatkan wajahnya ke kepalaku. Dia membelai kepalaku penuh kasih sayang. Tak sedetikpun dia berhenti mengecup keningku lembut. Dia membagi kehangatannya dengan hangat cintanya. Terasa begitu hangat. Rasa dingin tiba-tiba hilang begitu saja. Musim dingin berganti musim semi seketika. Begitu syahdu berada di peluknya. Kasih sayangnya mengalir di seluruh tubuhku saat di peluknya. Tercium harumnya bak kasturi. Dia tak pernah melepaskan tanganku dari dinginnya malam. Bibirnya tak lepas dari dzikir dan doa. Dzikir dan doa menjadi lagu nina bobo terindah di telingaku. Dan wajahnya terus dihiasi dengan senyum indahnya.
Sebelum mataku terlelap oleh bunga tidurku, terdengar kata-kata indah keluar dari lisannya dengan lirih dan merdu.
“Bunda ‘kan selalu ada di sini untukmu, nak. Tidurlah malaikat kecilku.”

-o0o-

Allahu Akbar… Allahu Akbar…
Kumandang adzan bergema ke seluruh penjuru desa. Kumandangnya memanggil-manggil penduduk desa. Meraka pun tak ragu bergegas datang ke surau. Surau sederhana nan teduh menunggu sabar. Shalat magrib ini begitu indah dengan lantunan kalam ilahi dari lisan sang Imam. Seluruh semesta tunduk dan khidmat akan merdunya suara sang Imam di Surau desaku.
Usailah shalat magrib, terdengar tiba-tiba suara yang aku kenal baik wibawanya.
“Ehem.. Saatnya Mengaji!!” Agak serak dan kuat. Sang Imam memanggilku dan kawan-kawan mengaji dengan tongkat di tangan.
Aku mengaji beberapa ayat. Dan beberapa kali Sang Imam harus memukulkan tongkatnya karna salahku dalam mengaji.
Tok!! Suaranya kencang dan keras.
Semuanya hening seperti di dalam pusara nan dingin. Aku terbaring lemas dengan air mata di penjaraku tiba-tiba. Aku kembali di penjaraku dengan pening di kepalaku.
“Oh… Nasib!”
“Hei Zaman!! Engkau telah taburkan duri di kakiku. Tahukah kau?! Hidupku kini bak Penjara Jahanam.” Teriakan hidupku di dalam penjaraku.

-o0o-

Muhammad Luthfi
(al-Ghoby)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar